Segala sesuatu pada ada masanya. Tak terkecuali perkebunan kelapa sawit. Ada momen yang disebut replanting atau penanaman kembali. Hal ini merupakan beban berat bagi para petani. Namun, beruntung ada perusahaan seperti Royal Golden Eagle (RGE) yang peduli kepada mereka. Grup yang dulu bernama Raja Garuda Mas ini mau mendampingi petani pada masa tersebut.

Source: bumn.go.id

Perkebunan kelapa sawit sebenarnya adalah investasi jangka panjang. Kendati begitu, tetap saja ada masa produktif yang maksimal. Selama ini kelapa sawit diketahui akan berbuah dengan baik hingga masa 20 hingga 25 tahun. Sesudah masa itu, perkebunan perlu diremajakan kembali dengan penanaman ulang.

Akan tetapi, momen yang dikenal dengan masa replanting itu begitu dikhawatirkan oleh petani. Mereka tak mau masa-masa tersebut hadir karena berarti paceklik tiba.

Ketika momen penanaman ulang hadir, pohon kelapa sawit ditebang. Bibit baru kemudian ditanam untuk menggantikan yang lama. Pada masa ini, petani akan kehilangan penghasilan. Pasalnya, mereka tidak bisa memanen kelapa sawit. Selain itu, mereka harus menunggu kelapa sawit baru untuk berbuah. Biasanya dibutuhkan waktu sekitar tiga tahun bagi petani untuk bisa melakukan panen perdana kelapa sawit.

Bagi para petani yang mengandalkan penghidupan dari pertanian, masa replanting sangat menakutkan. Mereka akan kehilangan penghasilan. Namun, bersamaan dengan itu, petani juga malah harus mengeluarkan uang untuk proses penanaman ulang kebunnya masing-masing. Akibatnya cukup banyak petani yang sengaja mengulur-ulur masa replanting. Mereka melakukannya karena tak mau kehilangan sumber mata pencahariannya.

Kondisi ini mengusik salah satu anak perusahaan Royal Golden Eagle yang bergerak dalam industri kelapa sawit, Asian Agri. Akibatnya mereka menggelar program khusus berupa pendampingan kepada para petani saat memasuki masa replanting.
       
Ada beragam cara yang ditempuh oleh Asian Agri dalam mendampingi petani. Namun, muaranya selalu sama, yakni berusaha mempersiapkan dari jauh hari agar para petani tetap bisa memiliki sumber penghidupan ketika masa penanaman ulang tiba.

Selain itu, petani juga didampingi oleh anak perusahaan RGE tersebut dalam melakukan proses replanting. Tujuannya adalah hasil yang dipetik petani kelak kemudian hari akan maksimal.

PENGHASILAN BARU


Source: Bisnis.com

Masalah paling mendasar yang dihadapi petani dalam masa replanting adalah kehilangan penghasilan. Segi ini yang akhirnya menjadi perhatian utama Asian Agri dalam pendampingan petani. Cara yang dilakukan ialah membuatkan beragam sumber pendapatan anyar bagi para petani.

Namun, Asian Agri tahu persis kemampuan para petani yang lihai dalam pertanian dan peternakan. Akhirnya dua bidang ini yang sering dijadikan sebagai lahan penghidupan anyar sementara buat para petani.
Contohnya ada di Koperasi Unit Desa (KUD) Subur Makmur yang terletak di Desa Tidar Kuranji, Kecamatan Maro Sebo Ilir, Kabupaten Batanghari, Jambi. Di sana, pada Februari 2017, Asian Agri mengajari para petani untuk berkebun cabai sebagai sumber penghasilan sementara bagi para petani.

KUD Subur Makmur membawahi 25 kelompok tani. Dalam satu kelompok tani terdapat sekitar 22 keluarga petani. Dengan demikian, KUD Subur makmur memayungi tak kurang dari 550 orang petani yang mengelola lahan seluas 1.200 hektare.

Sebelum masa penanaman ulang yang jatuh pada 2019 , KUD Subur Makmur telah mendapat pendampingan untuk menanam cabai dari Asian Agri. Anak perusahaan Royal Golden Eagle ini memberi dukungan berupa pengajaran cara penanaman, bibit, hingga pupuk yang diperoleh dari Yogyakarta.

Kesempatan ini dimanfaatkan oleh sekitar 70 orang petani. Mereka menanam cabai di sejumlah lahan kosong. Selain itu, berkat kesepakatan khusus dengan pemerintah desa, para petani juga dapat memanfaatkan lahan kosong milik desa untuk ditanami cabai.

"Kurang lebih saat ini ada tujuh blok yang tanam cabai. Satu blok luasnya sekitar 2,5 hektare," ucap Ketua KUD Subur Makmur, Rosul, seperti dikutip dari Kompas.com.

Hasil yang diperoleh cukup menggembirakan. Para petani bisa menghasilkan cabai berkualitas dengan harga yang bersaing. Pasalnya, mereka mengelola sendiri mulai dari saat menanam, merawat, hingga memanen sehingga tidak ada biaya untuk pekerja. Cabai-cabai itu kemudian dijual ke para pedagang di Bulian, Palimo, dan Jambi.

"Ada tambahan pendapatan 30 persen," kata Rosul menyebutkan jumlah penghasilan yang diperoleh ketika panen tiba.

Selain bertani, Asian Agri juga mengajari kecakapan beternak. Salah satu contohnya dilakukan di Kelompok Ternak Bahagia Mandiri yang ada di Desa Silikuan Hulu, Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan. Di sana lini bisnis grup yang dulu bernama Raja Garuda Mas tersebut menjalankan program yang dinamai sebagai sapi bergulir.

Program sapi bergulir telah dilakukan oleh Asian Agri sejak 2011. Dalam kegiatan ini, petani mendapat bantuan berupa dana yang bisa dipakai untuk membeli bibit sapi. Mulanya anak perusahaan RGE tersebut mengucurkan dan ke KUD. Sesudahnya KUD menyalurkannya ke petani dengan memberi rekomendasi pihak yang bisa diberi dana.

Ketika telah mendapatkan dana, petani mengangsur pengembalian dana maksimal selama 24 bulan. Hasil pengembalian itu nanti yang akhirnya disalurkan lagi ke petani lain yang membutuhkan.

Awalnya program sapi bergulir diikuti oleh sebelas orang peternak sapi dari kelompok ternak Agri Utama dengan jumlah sapi 20 ekor. Namun, karena dirasa menguntungkan, banyak petani lain yang tertarik mengikutinya. Per 2016, kegiatan anak perusahaan Royal Golden Eagle ini dapat memberi manfaat bagi 205 para peternak dengan jumlah sapi sebanyak 596 ekor.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada perusahaan dan sangat senang karena kami bisa mendapatkan dana peternakan bergulir ini. Usaha ternak saat ini cukup menguntungkan. Apalagi saat memasuki Lebaran Kurban. Beberapa ekor ternak kambing saya sudah dipesan oleh pembeli untuk Idul Adha,” ujar Ketua Kelompok Ternak Bahagia Mandiri, Junaidi.

BIBIT KELAPA SAWIT UNGGUL


Source: Asian Agri

Pendampingan yang diberikan oleh Asian Agri pada masa replanting tidak hanya terkait pendapatan petani. Hal yang krusial tak dilupakan, yakni proses penanaman ulang kelapa sawit. Terkait segi tersebut, bibit merupakan faktor penting.

Patut disadari, kelapa sawit merupakan perkebunan jangka panjang. Sekali menanam, pohon biasanya hanya akan diganti setelah berumur 20 hingga 25 tahun. Akibatnya kualitas bibit sangat menentukan. Perlu bibit bermutu yang mampu memberikan hasil maksimal, tahan hama, serta mudah dipelihara.

Kondisi tersebut sudah dipikirkan oleh Asian Agri. Mereka kemudian menyiapkan bibit Topaz yang dikenal sebagai bibit kelapa sawit unggulan. Anak perusahaan Royal Golden Eagle tersebut tahu persis kelebihan bibit Topaz karena hasil produksi tim riset dan pengembangannya.

Ada beragam keunggulan bibit kelapa sawit Topaz dibanding bibit lain. Pohonnya lebih cepat berbuah. Selain itu, hasilnya juga lebih banyak. Pada panen tahun pertama, Topaz mampu menghasilkan 15 hingga 20 ton tandan buah segar untuk setiap hektare. Keunggulan itu masih ditambah kemampuan beradaptasi di tanah yang kurang baik.

Sebagai antisipasi masa penanaman ulang, produksi bibit Topaz ditingkatkan oleh RGE. Selain itu, jalur distribusi dipantau agar petani mudah mendapatkannya. Tujuannya agar bibit Topaz dapat ditanam oleh para petani supaya replanting menjadi momen peningkatakan produktivitas hasil perkebunan.


EmoticonEmoticon